Menguak dan Menyingkap Sifat Sengkuni yang Banyak Dijumpai di Lingkungan Kantor
Dalam konteks ini, istilah Sengkuni digunakan untuk menggambarkan sosok yang gemar memanipulasi keadaan, mengadu domba, dan menghalalkan berbagai cara demi kepentingan pribadi. Perilaku semacam ini dapat merusak hubungan kerja, menciptakan konflik, serta mengikis kepercayaan di lingkungan kantor.
1. Sifat Iri dan Dengki yang Mengakar
Sifat iri dan dengki yang telah mengakar kuat cenderung sulit diubah karena telah menjadi bagian dari karakter seseorang. Ketika melihat orang lain memperoleh kenikmatan atau keberhasilan duniawi, ia merasa iri dan bahkan berusaha menjegal orang tersebut. Tujuannya adalah mengalihkan keuntungan, kekayaan, jabatan, atau kekuasaan kepada dirinya sendiri, keluarganya, maupun orang-orang yang dapat dikendalikan atau dipengaruhinya.
Ia seolah-olah tidak rela melihat orang lain menikmati keberhasilan. Alih-alih ikut berbahagia atau menghargai pencapaian orang lain, ia justru berupaya menghalangi, merampas kesempatan, atau menggagalkan keberhasilan tersebut demi memuaskan kepentingannya sendiri.
2. Menghalalkan Segala Cara demi Kepentingan Pribadi
Demi mencapai tujuan sebagaimana dijelaskan pada poin pertama, sosok Sengkuni cenderung menghalalkan segala cara. Salah satu caranya adalah melakukan manipulasi dalam berbagai bentuk. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, manipulasi dapat dilakukan dengan mengubah subjek, predikat, objek, dan keterangan (SPOK) sehingga makna suatu pernyataan bergeser dari maksud yang sebenarnya.
Bentuk manipulasi lainnya meliputi hal-hal berikut.
a. Manipulasi suasana dan keadaan
Perbedaan waktu, tempat, dan situasi dapat menghasilkan suasana serta pemaknaan yang berbeda. Celah ini dimanfaatkan untuk menyembunyikan konteks pembicaraan dan menggiring orang lain agar memberikan respons sesuai dengan keinginannya.
Selama respons yang diperoleh belum sesuai dengan harapan atau skenario yang telah disusun, ia akan terus mengulang dan mengubah skenario tersebut hingga mendapatkan validasi yang diinginkan. Ibarat menyusun mozaik, potongan-potongan informasi dipilih dan ditempatkan secara sengaja agar membentuk gambaran yang sesuai dengan kehendaknya, sekalipun gambaran tersebut tidak mencerminkan kenyataan secara utuh.
b. Manipulasi doa
Doa pun dapat disalahgunakan sebagai sarana membangun citra diri. Seseorang berusaha menampilkan dirinya seolah-olah paling alim, paling saleh, paling benar, dan paling suci di lingkungan instansinya, padahal perilakunya justru bertentangan dengan citra yang dibangun.
Salah satu bentuknya adalah mengajak orang lain berdoa menggunakan bahasa Arab tanpa memastikan bahwa mereka memahami isi dan makna doa tersebut. Jika di dalam doa itu disisipkan maksud tersembunyi yang merugikan pihak lain, kemudian orang-orang tersebut diminta mengaminkannya tanpa memahami maknanya, tindakan tersebut merupakan bentuk manipulasi yang sangat serius karena mengeksploitasi kepercayaan dan ketidaktahuan orang lain.
Melalui cara ini, ia seolah-olah ingin menegaskan bahwa dirinya berada di pihak yang paling benar, sedangkan orang lain berada di pihak yang salah. Bahkan, doa dapat dijadikan sarana untuk menggiring orang lain agar tanpa sadar turut mengamini harapan buruk terhadap seseorang atau keluarganya.
Pada akhirnya, yang hendak dipupuk adalah citra dirinya sendiri. Berbagai tindakan dilakukan demi memperoleh pengakuan, pembenaran, dan validasi untuk memuaskan ego serta memperkuat kesan bahwa dirinya lebih unggul daripada orang lain.
c. Manipulasi peran dan sandiwara sosial
Sosok Sengkuni juga dapat memainkan berbagai peran layaknya sebuah sandiwara. Ia menyusun skenario dengan menempatkan dirinya atau orang lain dalam peran tertentu, seolah-olah menjadi bapak, ibu, istri, paman, tante, anak, kakak, adik, dan sebagainya.
Permainan peran tersebut digunakan untuk menyamarkan niat sebenarnya sekaligus melancarkan berbagai kepentingan tersembunyi, seperti memperoleh kekayaan, jabatan, kekuasaan, kepuasan ego, atau pengakuan sebagai sosok yang heroik, superior, dan berpengaruh.
Di balik penampilan yang seolah-olah meyakinkan itu, terdapat upaya membangun ilusi mengenai kedudukan, pengaruh, atau kehebatan dirinya. Hubungan dan peran sosial tidak lagi dijalankan secara tulus, melainkan dijadikan instrumen untuk mencapai tujuan pribadi.
d. Manipulasi informasi
Manipulasi informasi merupakan salah satu bentuk perilaku yang sangat berbahaya karena dapat merusak fakta, membentuk persepsi yang keliru, dan menghancurkan reputasi seseorang.
Caranya dapat berupa mengurangi, menambahkan, mengubah, atau menyisipkan informasi tertentu agar suatu peristiwa tampak menguntungkan dirinya. Kepentingan pribadi yang begitu kuat membuatnya berusaha memengaruhi cara orang lain memahami suatu kejadian, bahkan jika tindakan tersebut merusak citra dan kredibilitas pihak lain.
Berikut beberapa contohnya.
Contoh pertama: penambahan kata yang mengubah makna pernyataan.
Pernyataan asli:
“Mustofa digelandang ke kantor polisi.”
Diubah menjadi:
“Tidak benar Mustofa digelandang ke kantor polisi.”
Penambahan frasa “tidak benar” membalik makna pernyataan semula. Informasi yang awalnya menyampaikan suatu kejadian berubah menjadi penyangkalan terhadap kejadian tersebut.
Contoh kedua: penghilangan informasi penting.
Pernyataan asli:
“Mustofa dicokok polisi di rumahnya dan dibawa ke kantor polisi.”
Diubah menjadi:
“Mustofa ke kantor polisi.”
Perubahan tersebut menghilangkan informasi penting mengenai siapa yang membawa Mustofa, dari mana ia dibawa, dan dalam keadaan bagaimana peristiwa itu terjadi. Akibatnya, pembaca atau pendengar dapat memperoleh gambaran yang berbeda dari fakta yang disampaikan semula.
Contoh ketiga: penyisipan nama untuk membangun citra diri.
Nama dirinya sengaja disisipkan di antara penyebutan nama-nama pejabat negara atau tokoh penting agar terkesan memiliki kedekatan, pengaruh, atau kedudukan yang istimewa.
Perilaku semacam ini mencerminkan ego yang tidak ingin tersaingi atau dilampaui orang lain. Ia berusaha menciptakan kesan bahwa dirinya hebat dan penting, sekalipun kesan tersebut dibangun melalui rekayasa informasi, bukan melalui prestasi atau kontribusi yang nyata.
3. Mencari Sekutu untuk Diadu Domba
Sosok Sengkuni cenderung melibatkan orang lain dalam berbagai persoalan, mencari kelemahan mereka, lalu mempertemukan atau mempertentangkan mereka demi kepentingan pribadinya. Ia tidak ingin bergerak sendirian karena keterlibatan pihak lain dapat dijadikan tameng, alat tekanan, sekaligus sarana untuk mengaburkan tanggung jawab atas tindakannya.
Untuk melancarkan aksinya, ia kerap berlindung di balik nama orang lain, tokoh tertentu, atau institusi. Ia juga berusaha menempatkan dirinya sebagai perantara di antara berbagai pihak, seolah-olah memiliki kewenangan atau kepercayaan khusus. Dalam posisi tersebut, pernyataan dan informasi dari satu pihak dapat dipelintir ketika disampaikan kepada pihak lain, sehingga memunculkan kesalahpahaman dan konflik.
Ia dapat menyusun berbagai skenario yang bermasalah untuk memojokkan orang yang dianggap sebagai pesaing atau rivalnya. Konflik sengaja diciptakan atau dipelihara agar pihak-pihak tertentu saling curiga, saling menyalahkan, dan akhirnya saling berhadapan.
Dengan cara demikian, ia dapat bertindak sebagai penghasut di balik layar, sementara dirinya sendiri berusaha tampil seolah-olah tidak terlibat. Ia memainkan peran sebagai penghubung, penengah, atau bahkan penyelamat, padahal justru berpotensi menjadi sumber persoalan.
Pola perilaku ini menyerupai musuh dalam selimut: tampak dekat, bersahabat, atau membantu di permukaan, tetapi di balik itu berusaha melemahkan pihak lain demi keuntungan pribadi atau kelompok yang dapat dipengaruhinya.
Penutup
Sifat Sengkuni di lingkungan kantor dapat dikenali melalui pola perilaku yang berulang, antara lain iri dan dengki terhadap keberhasilan orang lain, manipulasi fakta dan informasi, penyalahgunaan kepercayaan, permainan peran untuk membangun citra, serta upaya mengadu domba demi kepentingan pribadi.
Dampak perilaku tersebut tidak hanya merugikan individu yang menjadi sasaran, tetapi juga dapat merusak hubungan antarkaryawan, menurunkan kepercayaan, menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat, dan menghambat pencapaian tujuan organisasi.
Oleh karena itu, menghadapi perilaku semacam ini diperlukan kejernihan berpikir, kehati-hatian dalam menerima informasi, keberanian untuk memeriksa fakta, serta ketegasan dalam menjaga integritas. Setiap pernyataan perlu ditempatkan dalam konteks yang utuh, setiap informasi perlu diverifikasi, dan setiap tuduhan perlu didasarkan pada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, karakter seseorang tidak semestinya dinilai hanya dari citra yang dibangunnya, melainkan dari konsistensi antara perkataan, tindakan, fakta, dan tanggung jawabnya.

