Spesial INDONESIA
Obyektif, sportif, independen, berpikir positif, berjiwa besar
Minggu, 01 November 2026
Topik dan judul skripsi, tesis dan disertasi
Kembalikan mesin pendapatan negara
Sabtu, 31 Oktober 2026
Waspadalah terhadap Sengkuni
Waspadai Orang yang Merusak Sistem demi Memuaskan Ego dan Kepentingan Pribadi
Ada sejumlah karakter, kecenderungan, dan persoalan pribadi yang dapat mendorong seseorang melakukan tindakan destruktif terhadap lingkungan maupun sistem yang ada. Beberapa di antaranya adalah:
Merasa terpinggirkan atau diperlakukan tidak adil oleh sistem.
Merasa tidak memperoleh bagian yang semestinya dari hasil pembangunan.
Memiliki rasa iri dan dengki yang berlebihan terhadap keberhasilan orang lain.
Mengalami frustrasi terhadap perjalanan kariernya sendiri, sekaligus iri terhadap jabatan, kekuasaan, kekayaan, dan kepemilikan orang lain.
Memiliki pemahaman agama yang sempit dan keliru, termasuk kecenderungan takfiri, yaitu mudah mengafirkan orang lain, baik yang berbeda pandangan dalam satu agama maupun yang berbeda agama.
Menunjukkan ciri-ciri perilaku narsistik yang perlu dibedakan dari diagnosis Narcissistic Personality Disorder (NPD) oleh tenaga profesional.
Memperlihatkan perilaku toksik yang merusak hubungan sosial dan lingkungan kerja.
Merasa paling memahami kehendak Allah SWT, bahkan menggunakan nama dan ajaran agama untuk membenarkan tindakan serta kepentingan pribadinya yang sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai moral.
Apabila berbagai kecenderungan tersebut berkembang tanpa pengendalian diri dan introspeksi, seseorang dapat terdorong melakukan tindakan yang merusak sistem demi memenuhi ego dan ambisi pribadinya. Tujuannya sering kali berkaitan dengan keinginan untuk memperoleh pengakuan, pengaruh, kekuasaan, dan keuntungan pribadi. Beberapa kecenderungan yang dapat terlihat antara lain:
a. Ingin dianggap paling hebat, paling suci, paling bersih, paling pintar, dan paling saleh. Ia merasa memiliki keunggulan moral dan intelektual dibandingkan orang lain, sehingga sulit menerima kritik maupun perbedaan pendapat.
b. Ingin dipandang sebagai pahlawan. Ia membangun citra seolah-olah selalu hadir untuk menyelamatkan keadaan, padahal tindakannya justru dapat memperkeruh persoalan dan menciptakan ketergantungan orang lain terhadap dirinya.
c. Ingin menguasai dan mengendalikan orang lain. Ia merasa memiliki kewenangan untuk mengatur, menentukan, bahkan mencampuri kehidupan orang lain, seolah-olah dirinya mempunyai kekuasaan yang tidak boleh dipertanyakan.
d. Mengklaim tidak memiliki pamrih terhadap harta, takhta, ketenaran, maupun kenikmatan duniawi lainnya. Namun, apabila dicermati dari konsistensi antara perkataan, tindakan, dan kepentingan yang diperjuangkannya, tidak tertutup kemungkinan bahwa justru hal-hal tersebut merupakan tujuan yang sesungguhnya ingin diperoleh.
Mengapa Kita Perlu Menjaga Jarak?
Sebaiknya kita berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang yang secara konsisten memperlihatkan karakter dan perilaku destruktif semacam itu. Apabila dibiarkan, pola interaksi yang tidak sehat dapat menguras energi, mengganggu kestabilan emosi, merusak hubungan sosial, bahkan memengaruhi karakter orang-orang di sekitarnya. Menjaga jarak bukan berarti membenci atau merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan merupakan bentuk perlindungan terhadap kesehatan emosional, integritas, dan ketenteraman hidup kita sendiri.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa perilaku seseorang sering kali mencerminkan persoalan yang sedang berkecamuk dalam dirinya sendiri. Rasa iri, ketidakpuasan, frustrasi, ambisi, dan konflik pribadi yang tidak terselesaikan dapat diproyeksikan kepada orang lain. Akibatnya, persoalan yang sesungguhnya bersumber dari dirinya sendiri justru diupayakan menjadi persoalan orang lain. Bahkan, berbagai cara dapat ditempuh untuk menciptakan konflik, membangun persepsi negatif, dan mengalihkan perhatian dari kepentingan pribadinya. Dalam situasi seperti ini, pihak yang bersangkutan mungkin justru memperoleh keuntungan dari konflik yang sengaja atau tidak sengaja diciptakannya.
Kita juga perlu waspada apabila seseorang bertindak sebagai perantara, tetapi sesungguhnya lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Untuk mencapai tujuannya, ia dapat memanipulasi pernyataan, fakta, data, dan informasi, bahkan mengubah konteks pembicaraan dengan memainkan unsur-unsur bahasa, seperti subjek, predikat, objek, keterangan tempat, dan keterangan waktu. Akibatnya, suatu peristiwa dapat disajikan secara berbeda dari keadaan yang sebenarnya. Fakta dapat dipotong-potong, informasi dapat dipelintir, dan pernyataan seseorang dapat ditempatkan di luar konteks aslinya demi membangun kesimpulan yang menguntungkan dirinya.
Apabila Sudah Menyangkut Pelanggaran Hukum, Tempuh Jalur Hukum
Jika perilaku tersebut telah memasuki ranah pelanggaran hukum, penyelesaiannya sebaiknya ditempuh melalui mekanisme hukum yang berlaku. Jangan membalas manipulasi dengan manipulasi, fitnah dengan fitnah, ataupun provokasi dengan provokasi. Kumpulkan bukti, dokumentasikan peristiwa, periksa kebenaran informasi, dan serahkan penilaiannya kepada pihak yang berwenang. Proses hukum yang objektif, transparan, dan berdasarkan bukti jauh lebih baik daripada mengembangkan konflik pribadi yang tidak berkesudahan.
Insya Allah, kebenaran yang didukung oleh fakta dan bukti pada akhirnya akan menemukan jalannya. Cepat atau lambat, sesuatu yang disembunyikan melalui manipulasi tidak akan selamanya mampu menutupi kenyataan.
Ingatlah: jangan sampai kita menghabiskan energi untuk menghadapi persoalan yang sebenarnya bukan milik kita. Jangan pula membiarkan ego, ambisi, dan kepentingan seseorang merusak integritas, ketenteraman, serta masa depan banyak orang.
Sengkuni kesurupan
Aku heran dengan tipe orang yang seolah-olah kehilangan arah hidup ketika tidak lagi memiliki jabatan atau kekuasaan. Tingkahnya menjadi tidak terkendali: ke sana kemari mencari pengaruh, menyeruduk siapa saja yang dianggap menghalangi ambisinya, membangun intrik, dan menghalalkan berbagai cara agar segala sesuatu berpusat pada dirinya. Ia ingin selalu dianggap sebagai sosok paling penting, sementara orang lain diposisikan seolah-olah hanya sebagai bawahan yang harus tunduk dan melayani kepentingannya. Seakan-akan, tanpa jabatan dan penghormatan dari orang lain, seluruh dunianya akan runtuh. Padahal, nilai seseorang tidak pernah ditentukan semata-mata oleh jabatan yang pernah disandangnya, melainkan oleh kualitas karakter, integritas, dan kontribusi nyata yang ditinggalkannya.
Dalam urusan agama pun, pola pikir semacam ini tidak jarang muncul dalam bentuk yang lebih memprihatinkan. Ia dan kelompoknya seolah-olah menjadi satu-satunya pemegang kebenaran, sementara orang-orang di luar kelompoknya dianggap sesat, salah, bahkan dengan mudah dicap kafir, terutama mereka yang berbeda keyakinan. Lebih jauh lagi, orang-orang yang menjadi sasaran iri dan dengkinya sengaja dibentur-benturkan dengan pihak lain untuk menciptakan konflik, permusuhan, dan kesalahpahaman. Ironisnya, persoalan yang sebenarnya bersumber dari ambisi, ketidakpuasan, dan kedengkian dirinya sendiri justru dikemas seolah-olah merupakan kesalahan orang lain. Begitulah ketika ego terlalu besar, tetapi kedewasaan berpikir dan kejernihan hati tidak berkembang seiring bertambahnya usia.
Terus terang, aku merasa kasihan kepada orang yang terjebak dalam pola perilaku seperti itu. Namun, rasa kasihan bukan berarti harus memberikan ruang bagi perilaku yang merusak ketenteraman dan hubungan antarmanusia. Aku memilih menjaga jarak, bukan karena takut, apalagi merasa kalah, melainkan karena menyadari bahwa tidak semua orang layak diberi akses ke dalam kehidupan kita. Menghadapi orang yang sudah terlalu lama memelihara pola pikir dan perilaku demikian sering kali hanya menguras energi tanpa menghasilkan perubahan berarti. Terlebih jika usia sudah melewati setengah abad, tetapi kedewasaan emosional dan kebijaksanaan hidup tidak kunjung tumbuh. Orang Jawa punya ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan karakter yang sudah sedemikian mengakar: "Wis mbalung sungsum." Artinya, perilaku tersebut seolah-olah sudah meresap hingga ke tulang dan sumsum. Kalau sudah demikian, menjaga jarak terkadang jauh lebih bijaksana daripada terus-menerus menghabiskan waktu untuk menghadapi orang yang tidak pernah merasa perlu memperbaiki dirinya.
Rabu, 28 Oktober 2026
Waspadai Perilaku Manipulatif Berkedok Agamis
Jika kalian menjumpai seseorang yang memiliki masalah perilaku dan menunjukkan pola-pola seperti yang diuraikan berikut ini, berhati-hatilah. Seseorang dengan kecenderungan manipulatif dapat menggunakan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang berhasil dipengaruhinya. Penampilan yang meyakinkan, tutur kata yang santun, atau kesan agamis tidak serta-merta menjamin bahwa seseorang memiliki integritas dan niat yang baik.
Sengkuni dengan karakter seperti ini diduga dapat menggunakan berbagai cara untuk mencapai kepentingannya, antara lain sebagai berikut.
1. Menghalangi akses informasi untuk menyembunyikan manipulasi
Ia berusaha mengendalikan arus informasi agar orang lain tidak mengetahui adanya kemungkinan manipulasi. Sebagai contoh, ketika seorang tamu datang, ia berupaya menempatkan dirinya sebagai satu-satunya perantara informasi. Ia bahkan dapat menghalangi tamu tersebut untuk melihat atau berkomunikasi secara langsung dengan tuan rumah atau pihak yang sebenarnya ingin ditemui. Dengan demikian, informasi yang diterima tamu maupun tuan rumah berpotensi dikendalikan sesuai dengan kepentingannya.
2. Menghalangi dokumentasi atas tindakan yang dilakukannya
Ia berusaha mencegah orang lain merekam atau mendokumentasikan tindakannya, terutama ketika dokumentasi tersebut berpotensi menjadi bukti atas perilaku yang tidak patut atau dugaan pelanggaran hukum. Tindakan semacam ini patut diwaspadai apabila dilakukan untuk menghindari pertanggungjawaban atau menghalangi pengungkapan fakta.
3. Membangun kesan superior dan mengklaim kewenangan yang tidak semestinya
Ia selalu berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang lebih tinggi kedudukan, lebih berkuasa, atau lebih berwenang daripada orang lain. Bahkan, ia dapat mengaku sebagai dunungan—istilah dalam bahasa Sunda yang berarti majikan atau atasan—dari orang lain maupun tuan rumah, tanpa mempertimbangkan batas kewenangan yang sebenarnya. Akibatnya, ia seolah-olah menganggap semua urusan orang lain sebagai urusannya sendiri dan merasa berhak mengatur segala sesuatu sesuai dengan kepentingan pribadinya.
4. Berlindung di balik institusi atau pihak lain ketika terdesak
Ketika menghadapi situasi yang mengancam kepentingannya, ia dapat berlindung di balik nama institusi atau memanfaatkan orang lain yang ingin dipengaruhinya. Salah satu caranya adalah memutarbalikkan informasi melalui perubahan atau pengaburan unsur-unsur kalimat, seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan, sehingga makna suatu peristiwa menjadi berbeda dari keadaan yang sebenarnya. Strategi ini dapat digunakan untuk mengalihkan tanggung jawab, membangun pembenaran, atau menyesatkan pihak yang sedang berusaha memahami persoalan.
5. Melibatkan pihak lain untuk memperkuat aksinya
Dalam menjalankan tindakannya, ia dapat bekerja sama dengan orang lain, baik secara sadar maupun tanpa disadari oleh pihak yang bersangkutan. Dalam konteks kelembagaan, pihak-pihak tersebut dapat berasal dari bagian tata usaha (TU), unsur internal organisasi, ataupun pihak eksternal yang telah berhasil dipengaruhi atau dikelabuhinya. Keterlibatan pihak lain dapat membuat tindakannya tampak seolah-olah sah, terorganisasi, dan memperoleh dukungan kelembagaan, padahal kebenaran serta dasar kewenangannya masih perlu diperiksa.
6. Menyaring, membelokkan, atau menghalangi informasi yang ditujukan kepada pihak tertentu
Ia berusaha menghambat informasi yang disampaikan oleh tamu atau pihak lain agar tidak sampai secara utuh kepada orang yang dituju. Jika informasi tersebut berpotensi merugikan kepentingannya, ia dapat menyembunyikan sebagian informasi, mengubah konteksnya, atau mengarahkannya sedemikian rupa sehingga penerima memperoleh pemahaman yang berbeda dari fakta sebenarnya. Apabila dilakukan demi keuntungan materi, kekuasaan, atau kesenangan pribadi, tindakan tersebut dapat merusak kepercayaan, mengganggu hubungan antarpihak, dan merugikan institusi.
7. Menunjukkan perilaku yang menyerupai ciri gangguan kepribadian tertentu
Pola perilaku yang mengutamakan diri sendiri, merasa paling berkuasa, atau cenderung memanipulasi orang lain terkadang dianggap menyerupai ciri-ciri Narcissistic Personality Disorder (NPD), yaitu gangguan kepribadian narsistik. Namun, perilaku manipulatif, kesombongan, atau sikap merasa superior saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami NPD. Diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui penilaian profesional oleh tenaga kesehatan jiwa yang berwenang, berdasarkan kriteria klinis yang relevan. Oleh karena itu, penilaian terhadap seseorang sebaiknya didasarkan pada perilaku yang dapat diamati, fakta yang terverifikasi, dan dampak nyata tindakannya, bukan semata-mata pada dugaan mengenai kondisi kejiwaannya.
Bersambung ...
Minggu, 25 Oktober 2026
Membedah kelakuan Sengkuni (seni manipulasi)
Pada unggahan sebelumnya, kita telah membahas Part I: SIFAT IRI DAN DENGKI sebagai salah satu akar perilaku Sengkuni.
Sekarang, kita lanjutkan dengan membedah Part II: MANIPULASI.
Ciri khas Sengkuni bukan hanya iri dan dengki, melainkan juga kepiawaiannya melakukan manipulasi demi kepentingan pribadi. Kepentingan tersebut dapat berupa keuntungan ekonomi atau harta, kekuasaan atau takhta, serta berbagai kesenangan duniawi lainnya.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Mari kita mengingat kembali pelajaran dasar Bahasa Indonesia. Sebuah kalimat umumnya memiliki unsur-unsur pembentuk yang dikenal dengan pola S-P-O-K, yaitu:
S (Subjek): pihak yang dibicarakan atau melakukan tindakan.
P (Predikat): tindakan, keadaan, atau sesuatu yang dinyatakan tentang subjek.
O (Objek): unsur yang menjadi sasaran tindakan dalam kalimat aktif transitif.
K (Keterangan): informasi tambahan mengenai tempat, waktu, cara, tujuan, dan sebagainya.
Dalam manipulasi informasi, unsur-unsur tersebut dapat diubah, dipertukarkan, atau ditempatkan dalam konteks yang berbeda sehingga suatu peristiwa seolah-olah memiliki makna yang berbeda dari fakta sebenarnya.
Berikut tiga jurus manipulasi yang perlu diwaspadai.
1. Mempertukarkan Subjek dan Objek
Cara ini dilakukan dengan membalik posisi pelaku dan pihak yang menjadi sasaran tindakan. Akibatnya, pihak yang semula melakukan tindakan dapat digambarkan seolah-olah menjadi korban atau justru pihak yang menerima perintah.
Fakta awal:
Joko menyuruh Budi pergi ke pasar.
Hasil manipulasi:
Budi menyuruh Joko pergi ke pasar.
Sekilas terlihat sederhana. Namun, makna peristiwanya berubah secara mendasar karena pihak yang memberikan perintah dan pihak yang menerima perintah telah dipertukarkan.
2. Mengubah Predikat: Dari Kalimat Aktif Menjadi Pasif
Manipulasi juga dapat dilakukan dengan mengubah bentuk kata kerja aktif menjadi pasif. Perubahan ini dapat menggeser fokus kalimat dan mengubah posisi pihak yang ditampilkan sebagai pelaku maupun pihak yang dikenai tindakan.
Fakta awal (kalimat aktif):
Joko menyuruh Budi pergi ke pasar.
Hasil manipulasi (kalimat pasif dengan perubahan peran):
Joko disuruh Budi pergi ke pasar.
Perhatikan perubahan kata menyuruh menjadi disuruh. Dalam kalimat pertama, Joko merupakan pihak yang memberikan perintah kepada Budi. Dalam kalimat kedua, justru Joko yang digambarkan menerima perintah dari Budi.
Perubahan tersebut bukan sekadar persoalan penggunaan awalan me- dan di-, melainkan juga perubahan hubungan antara pelaku, penerima tindakan, dan tanggung jawab dalam suatu peristiwa.
3. Mengubah Keterangan: Tempat dan Waktu
Ini merupakan salah satu cara manipulasi yang sulit dikenali apabila pembaca atau pendengar tidak mengetahui fakta awalnya.
Keterangan tempat dan waktu dapat diubah sebagian ataupun seluruhnya sehingga suatu peristiwa seolah-olah terjadi dalam situasi yang berbeda.
Fakta awal:
Joko menyuruh Budi pergi ke pasar tradisional sekarang.
Beberapa bentuk manipulasi:
Manipulasi tempat: Joko menyuruh Budi pergi ke supermarket sekarang.
Manipulasi waktu: Joko menyuruh Budi pergi ke pasar tradisional besok.
Manipulasi tempat dan waktu: Joko menyuruh Budi pergi ke supermarket besok.
Manipulasi total atau penggantian cerita: Amran menyuruh Darmo mengemudikan mobil ke luar kota.
Dari satu peristiwa sederhana, informasi dapat diubah sedemikian rupa sehingga menghasilkan cerita yang sangat berbeda dari fakta awal. Bahkan, cerita baru tersebut dapat terdengar meyakinkan apabila disampaikan secara berulang-ulang tanpa memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk memeriksa kebenarannya.
Kesimpulan: Waspadai Manipulasi ala Sengkuni Modern!
Sengkuni modern tidak selalu melakukan kebohongan secara terang-terangan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah menggeser fakta melalui perubahan unsur-unsur informasi: siapa pelakunya, siapa yang menerima tindakan, tindakan apa yang dilakukan, serta kapan dan di mana peristiwa tersebut terjadi.
Ketika subjek dan objek dipertukarkan, predikat diubah, serta keterangan tempat dan waktu digeser, sebuah peristiwa dapat memperoleh makna yang sangat berbeda dari kenyataan sebenarnya.
Jika manipulasi semacam ini dilakukan dengan sengaja, kepentingan pribadi berupa harta, takhta, kekuasaan, dan kesenangan duniawi dapat ditempatkan di atas kebenaran.
Ingatlah tiga hal berikut:
Jangan mudah percaya pada satu versi cerita sebelum memeriksa fakta dan sumber informasinya.
Jangan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan pernyataan tanpa memahami konteks, tempat, dan waktu kejadian.
Biasakan melakukan verifikasi terhadap informasi, terutama apabila informasi tersebut berpotensi merugikan nama baik atau kepentingan orang lain.
Sengkuni boleh pandai merangkai cerita, tetapi fakta tidak boleh dikalahkan oleh kepiawaian seseorang dalam memanipulasi kata-kata.
Pertanyaan untuk kita semua:
Pernahkah Anda menemukan atau mengalami salah satu dari tiga jurus manipulasi tersebut di lingkungan keluarga, pekerjaan, organisasi, atau kehidupan bermasyarakat?
Mari belajar lebih kritis agar tidak mudah menjadi korban manipulasi, sekaligus tidak ikut melakukan manipulasi terhadap orang lain.
Iri dengki memang penyakit bawaan
Ketika hati telah dipenuhi rasa iri dan dengki, kebahagiaan orang lain terasa seperti ancaman, sementara rezeki yang diterima orang lain seolah-olah menjadi penghinaan terhadap dirinya. Dalam keadaan demikian, segala cara dapat ditempuh bukan untuk memperbaiki nasib sendiri, melainkan untuk menggagalkan kenikmatan hidup orang lain. Keberhasilan orang lain dicari celahnya, kebahagiaannya diusik, reputasinya dirusak, dan setiap kesempatan dimanfaatkan untuk menjatuhkannya. Orang yang dikuasai iri dengki sering kali tidak merasa cukup hanya dengan menjadi lebih baik; ia justru ingin memastikan bahwa orang yang tidak disukainya tidak menjadi lebih baik, bahkan jika untuk itu ia harus mengorbankan akal sehat, kejujuran, dan hati nuraninya sendiri.
Yang lebih memprihatinkan, kedalaman pengetahuan agama tidak selalu berbanding lurus dengan kebersihan hati dan kemuliaan akhlak. Seseorang dapat fasih berbicara tentang ayat, hadis, dosa, pahala, dan kebenaran, tetapi tetap menyimpan kedengkian yang menggerogoti batinnya. Ketika agama dijadikan kedok untuk membenarkan kebencian, memanipulasi penilaian orang lain, atau menjatuhkan sesama, lahirlah sosok yang tampak alim di permukaan, tetapi kehilangan keluhuran moral dalam perilakunya. Inilah ironi ketika simbol kesalehan dipertontonkan, sementara nilai-nilai yang seharusnya menyertainya justru diabaikan. Bahkan, nama Allah SWT dapat dicatut untuk menyamarkan kepentingan pribadi, seakan-akan tindakan yang didorong oleh iri dengki merupakan perjuangan membela kebenaran. Padahal, mengatasnamakan Tuhan tidak otomatis menjadikan seseorang benar, sebagaimana kefasihan berbicara tentang agama tidak otomatis membuktikan kesucian hatinya.
Dalam perumpamaan pewayangan, keadaan ini mengingatkan kita pada Sengkuni yang lihai memainkan tipu daya, tetapi berusaha membungkus kelicikannya dengan penampilan yang meyakinkan. Sengkuni pun dapat menyamar seolah-olah dirinya Kresna: kebusukan niat disembunyikan di balik kebijaksanaan, kelicikan dipoles menjadi strategi, dan kedengkian dipasarkan sebagai perjuangan demi kebenaran. Karena itu, jangan menilai seseorang semata-mata dari gelar, penampilan, kefasihan beragama, atau klaimnya sebagai pembela kebenaran. Nilailah dari konsistensi antara perkataan dan perbuatan, ketulusan dalam memperlakukan sesama, serta kesediaannya berlaku adil bahkan kepada orang yang tidak disukainya. Sebab, orang yang benar-benar menjunjung nilai agama tidak sibuk merampas kebahagiaan orang lain demi memuaskan egonya sendiri. Kesalehan sejati tidak membutuhkan kedok, kebenaran tidak memerlukan tipu daya, dan hati yang bersih tidak menjadikan kehancuran orang lain sebagai sumber kepuasannya.
Topik dan judul skripsi, tesis dan disertasi
Jika saudara kekurangan ide penelitian untuk tujuan tugas akhir S1 maupun pasca sarjana (S2 dan S3), barangkali beberapa topik penelitian be...
-
Beberapa waktu terakhir ini muncul berbagai pendapat tentang orang dalam (ordal) yang mencoreng kepercayaan masyarakat kepada pemerintah ter...
-
Akhir Mei dan awal Juni 2026 kemarin, saya mengadakan survey jejak karbon kepada para mahasiswa ITB kelas Agrometeorologi yang menghasilkan ...
-
Kata ini sangat menjengkelkan bagi para produsen atau mereka-mereka yang cinta pada produksi dalam negeri. Ini tidak lain karena sering men...





