Beberapa waktu terakhir ini muncul berbagai pendapat tentang orang dalam (ordal) yang mencoreng kepercayaan masyarakat kepada pemerintah terkait jabatan struktural di BUMN. Seperti telah menjadi rahasia umum bahwa tidak jarang orang menggunakan orang dalam untuk naik jabatan atau orang dalam menarik orang yang dipercayanya untuk menduduki jabatan tertentu di suatu instansi. Sesuatu yang sudah salah kaprah. Yang mengerikan adalah ketika pengangkatan pejabat tidak melalui kajian ilmiah dan didasarkan pada pokoknya/yang penting bisa menempati/menempatkan seseorang pada jabatan mentereng sehingga dipandang superior oleh orang lain. Profesionalitas dipandang sebelah mata dan bisa diduga barangkali nantinya akan banyak masalah. Yang kasihan adalah masyarakat yang bisa jadi akan menanggung akibat langsung dan tak langsungnya dari kinerja BUMN tersebut. Barangkali hal yang saya sampaikan di bawah ini bisa menjadi sumbang saran bagi pihak pihak yang berkompeten dan pengambil keputusan ketika menempatkan seseorang pada posisi jabatan tertentu.
Berikut ini disajikan bagaimana perbedaan antara orang yang berpendidikan dengan orang yang tidak berpendidikan dalam menjalankan aksinya/mengambil keputusan.
|
Orang yang memiliki pendidikan |
Orang yang minim kesempatan pendidikan formal |
|
Cenderung mengidentifikasi akar masalah secara sistematis. |
Cenderung mengandalkan pengalaman dan intuisi. |
|
Menggunakan data, bukti, dan analisis dalam mengambil
keputusan. |
Lebih mengutamakan pengalaman praktis yang telah terbukti
baginya. |
|
Mempertimbangkan berbagai alternatif dan konsekuensi. |
Sering memilih solusi yang paling cepat atau paling
dikenal. |
|
Terbiasa berpikir kritis dan mengevaluasi informasi. |
Penilaian lebih banyak dipengaruhi pengalaman pribadi dan
lingkungan. |
|
Lebih terbuka terhadap pembaruan ilmu dan inovasi. |
Lebih mengandalkan cara yang sudah terbiasa digunakan,
meskipun tidak selalu demikian. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar