Kamis, 11 Juni 2020

Sudut pandang masyarakat ...

Beberapa waktu yang lalu telah terjadi banjir import produk pertanian ke dalam pasar dalam negeri. Ini merupakan langkah pemerintah dalam mengantisipasi harga dan ketersediaan 11 produk pertanian yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak bahkan termasuk sayur mayur. Hal ini sebagian dikeluhkan para petani dan banyak masyarakat yang lain karena terjadi "kerusakan harga" yang tidak menguntungkan para petani. Pedagang dan pihak ketigalah yang diuntungkan dengan kondisi tersebut. Dari sekilas survey yang dilakukan untuk menjaring pendapat masyarakat maka penyebab petani tidak diuntungkan oleh kondisi panen adalah:
1. Kongkalingkong antara oknum pemerintah dan DPR dalam membuat kebijakan. Kebijakan atau tata aturan atau perundang-undangan yang berlaku seharusnya makin berpihak kepada petani yang ditunjukkan misal dengan kesejahteraan petani yang meningkat dan makin banyak pihak khususnya generasi muda yang tertarik menekuni bidang pertanian.
2. Biaya produksi yang jauh lebih besar daripada harga jual. Masyarakat tani tahu betul bagaimana mahalnya ongkos produksi produk pertanian. Untuk biaya sewa/pengolahan lahan; benih, pupuk, perawatan, dan buruh misalnya, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ini belum kalau kemudian saat panen, membanjir produk import tentu akan makin menjatuhkan harga.
3. Rantai distribusi pangan yang dikuasai mafia. Mafia banyak bertebaran dimana-mana dimana mulai dari tingkat lapangan sampai tingkat pembuatan kebijakan. Sebagian mempermainkan data dan informasi serta sebagian yang lain sebagai kelompok penekan pembuat kebijakan/undang-undang dan berbagai upaya lain yang sangat menguntungkan pihak mafia.
4. Daerah produsen dan konsumen yang tidak terkoneksi dengan baik. Tidak jarang berita-berita tentang wilayah yang sedang tanam, panen di pihak produsen tidak tersampaikan informasinya kepada masyarakat konsumen. Akibatnya tidak jarang di suatu wilayah produsen kebanjiran produk pertanian sementara pada pihak konsumen terjadi kelangkaan barang. Bila infrastruktur dan suprastruktur mendukung maka bukan tidak mungkin harga pangan stabil dan kesejahteraan petani meningkat.
5. Petani tidak berkelompok/membentuk kelompok tani atau gabungan kelompok tani sehingga posisi tawar lemah. Dengan berkelompok, misalnya menjadi eksportir, maka selain akan meningkatkan posisi tawar, juga akan meningkatkan devisa yang mendorong kesejahteraan anggota gapoktan tersebut. Kerelaan untuk berbagi peran dan tanggung jawab serta hak akan menjamin terjadinya pembagian yang adil di antara anggota.
6. Mindset yang belum berubah, baik di pihak pemerintah, pedagang maupun petani. Di pihak pemerintah barangkali menganggap bahwa petani adalah kelompok orang yang mudah diatur, demikian pula anggapan pedagang. Petani adalah kelompok yang sangat dibutuhkan untuk meraih suara dalam Pemilu dan meraup keuntungan lainnya. Sedangkan bagi para petani pekerjaan tani merupakan pekerjaan warisan dari para orang tuanya dan merupakan pekerjaan yang kurang menuntut banyak kreasi dan inovasi. Petani lebih suka menyekolahkan anaknya untuk tidak menjadi petani merupakan salah satu penguat bahwa orang tuanya tidak menginginkan anaknya menjadi petani. Bagi kalangan muda, pekerjaan tani juga banyak dianggap sebagai pekerjaan yang kotor (belepotan tanah/lumpur/kotoran) dan kurang bergengsi dibanding kerja menjadi dokter, pegawai negeri sipil, banker dsb. Tentu ada sebagian pula yang tidak berpikir demikian.
7. Menggunakan paradigma lama dimana menjadi petani susah untuk menjadi makmur. Kenyataannya paradigma ini sudah mulai mengalami pergeseran dimana tidak jarang petani menjadi makmur karena menerapkan pertanian modern yang organik dan efisien. Harga jual produk pertanian yang dipasarkan dengan cara-cara kreatif dan inovatif terbukti juga mengangkat kesejahteraan banyak pihak.
8. Menghasilkan produk di bawah standard. Kita mengetahui bahwa masih banyak produk-produk pertanian yang belum memenuhi standard tertentu ketika dijual atau dilempar ke pasar. Untuk bisa dijual di supermarket harus menjalani proses tertentu sehingga kualitasnya terjamin. Standard kesehatan, kemasan dan lain-lain masih belum menjadi perhatian utama padahal konsumen menginginkan produk pertanian yang terseleksi kualitasnya. Quality control harus menjadi perhatian bila menginginkan produk standard apalagi jika dieksport. Produk tersebut harus memenuhi standard internasional khususnya di negara pengimport produk tersebut.
9. Belum menjamurnya Desa Digital dimana produk-produk bisa dipasarkan secara online, mencapai konsumen dengan cepat, kualitas terjamin (tidak layu atau rusak), harga stabil dan terjangkau.
10. Kelembagaan, misalnya Koperasi Unit Desa atau Kelompok Usaha Bersama serta bentuk organisasi lainnya yang belum berjalan dengan baik. Sudah banyak kelompok-kelompok yang mempunyai ketertarikan pertanian yang sejenis namun mengingat sangat demokratisnya maka menjadi organisasi yang tanpa bentuk dan tidak terorganisir.
Berbagai hal di atas sebenarnya mungkin sudah disadari oleh banyak pihak tapi kurang terinformasikan dengan lebih baik, dengan bahasa yang mudah dipahami semua pihak, saling bisa menerima bagian keuntungan masing-masing (simbiosis mutualisma) dengan proporsi yang seimbang. Petani sebagai garda depan dalam penopang kehidupan suatu negara sudah semestinya mendapatkan perhatian tinggi mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap waktu. Suatu negara yang ditopang oleh pertanian yang kuat, biasanya bisa bertahan terhadap gangguan ekonominya.Wabah covid-19 yang saat ini melanda dunia akan secara bertahap bisa dilalui bila produk pertanian yang berimbas pada perekonomian terjaga dengan baik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pers dan Generasi Muda

 Beberapa waktu terakhir perkembangan teknologi informasi begitu meningkat pesat. Perubahan informasi terjadi dalam hitungan detik dan itu b...