Rabu, 28 Oktober 2026

Waspadai Perilaku Manipulatif Berkedok Agamis

Jika kalian menjumpai seseorang yang memiliki masalah perilaku dan menunjukkan pola-pola seperti yang diuraikan berikut ini, berhati-hatilah. Seseorang dengan kecenderungan manipulatif dapat menggunakan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang berhasil dipengaruhinya. Penampilan yang meyakinkan, tutur kata yang santun, atau kesan agamis tidak serta-merta menjamin bahwa seseorang memiliki integritas dan niat yang baik.

Sengkuni dengan karakter seperti ini diduga dapat menggunakan berbagai cara untuk mencapai kepentingannya, antara lain sebagai berikut.

1. Menghalangi akses informasi untuk menyembunyikan manipulasi

Ia berusaha mengendalikan arus informasi agar orang lain tidak mengetahui adanya kemungkinan manipulasi. Sebagai contoh, ketika seorang tamu datang, ia berupaya menempatkan dirinya sebagai satu-satunya perantara informasi. Ia bahkan dapat menghalangi tamu tersebut untuk melihat atau berkomunikasi secara langsung dengan tuan rumah atau pihak yang sebenarnya ingin ditemui. Dengan demikian, informasi yang diterima tamu maupun tuan rumah berpotensi dikendalikan sesuai dengan kepentingannya.

2. Menghalangi dokumentasi atas tindakan yang dilakukannya

Ia berusaha mencegah orang lain merekam atau mendokumentasikan tindakannya, terutama ketika dokumentasi tersebut berpotensi menjadi bukti atas perilaku yang tidak patut atau dugaan pelanggaran hukum. Tindakan semacam ini patut diwaspadai apabila dilakukan untuk menghindari pertanggungjawaban atau menghalangi pengungkapan fakta.

3. Membangun kesan superior dan mengklaim kewenangan yang tidak semestinya

Ia selalu berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang lebih tinggi kedudukan, lebih berkuasa, atau lebih berwenang daripada orang lain. Bahkan, ia dapat mengaku sebagai dunungan—istilah dalam bahasa Sunda yang berarti majikan atau atasan—dari orang lain maupun tuan rumah, tanpa mempertimbangkan batas kewenangan yang sebenarnya. Akibatnya, ia seolah-olah menganggap semua urusan orang lain sebagai urusannya sendiri dan merasa berhak mengatur segala sesuatu sesuai dengan kepentingan pribadinya.

4. Berlindung di balik institusi atau pihak lain ketika terdesak

Ketika menghadapi situasi yang mengancam kepentingannya, ia dapat berlindung di balik nama institusi atau memanfaatkan orang lain yang ingin dipengaruhinya. Salah satu caranya adalah memutarbalikkan informasi melalui perubahan atau pengaburan unsur-unsur kalimat, seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan, sehingga makna suatu peristiwa menjadi berbeda dari keadaan yang sebenarnya. Strategi ini dapat digunakan untuk mengalihkan tanggung jawab, membangun pembenaran, atau menyesatkan pihak yang sedang berusaha memahami persoalan.

5. Melibatkan pihak lain untuk memperkuat aksinya

Dalam menjalankan tindakannya, ia dapat bekerja sama dengan orang lain, baik secara sadar maupun tanpa disadari oleh pihak yang bersangkutan. Dalam konteks kelembagaan, pihak-pihak tersebut dapat berasal dari bagian tata usaha (TU), unsur internal organisasi, ataupun pihak eksternal yang telah berhasil dipengaruhi atau dikelabuhinya. Keterlibatan pihak lain dapat membuat tindakannya tampak seolah-olah sah, terorganisasi, dan memperoleh dukungan kelembagaan, padahal kebenaran serta dasar kewenangannya masih perlu diperiksa.

6. Menyaring, membelokkan, atau menghalangi informasi yang ditujukan kepada pihak tertentu

Ia berusaha menghambat informasi yang disampaikan oleh tamu atau pihak lain agar tidak sampai secara utuh kepada orang yang dituju. Jika informasi tersebut berpotensi merugikan kepentingannya, ia dapat menyembunyikan sebagian informasi, mengubah konteksnya, atau mengarahkannya sedemikian rupa sehingga penerima memperoleh pemahaman yang berbeda dari fakta sebenarnya. Apabila dilakukan demi keuntungan materi, kekuasaan, atau kesenangan pribadi, tindakan tersebut dapat merusak kepercayaan, mengganggu hubungan antarpihak, dan merugikan institusi.

7. Menunjukkan perilaku yang menyerupai ciri gangguan kepribadian tertentu

Pola perilaku yang mengutamakan diri sendiri, merasa paling berkuasa, atau cenderung memanipulasi orang lain terkadang dianggap menyerupai ciri-ciri Narcissistic Personality Disorder (NPD), yaitu gangguan kepribadian narsistik. Namun, perilaku manipulatif, kesombongan, atau sikap merasa superior saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami NPD. Diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui penilaian profesional oleh tenaga kesehatan jiwa yang berwenang, berdasarkan kriteria klinis yang relevan. Oleh karena itu, penilaian terhadap seseorang sebaiknya didasarkan pada perilaku yang dapat diamati, fakta yang terverifikasi, dan dampak nyata tindakannya, bukan semata-mata pada dugaan mengenai kondisi kejiwaannya.

Bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Waspadai Perilaku Manipulatif Berkedok Agamis

Jika kalian menjumpai seseorang yang memiliki masalah perilaku dan menunjukkan pola-pola seperti yang diuraikan berikut ini, berhati-hatilah...